Thursday, October 28, 2004

...LOVE at FIRST SIGHT...

Waduh... susah juga ya kalo mobil lagi ngadat... ternyata capek banget naik angkot dan Metromini 72 itu... panas dan keringetan... Sementara Taksi nggak ada yang bersahabat sama gue hari ini, tiba-tiba aja semua menghilang dan nggak ada yang nongol di depan gue... Meskipun harus kepanasan dan keringetan tapi gue seneng banget hari ini naik angkot, karena di angkot itu ada peristiwa yang menginspirasikan gue untuk menuliskan ini. Seneng banget rasanya bisa kayak dulu menulis... menulis dan menulis... Kayaknya seminggu ini gue menemukan kembali dunia gue, after long... long time, gue udah gak pernah nulis... thanks to Mr. Sometimes then, kayaknya sejak gue baca tulisan dia di blog-nya, gue jadi punya semangat lagi buat nulis.

Kali ini gue mau bahas Love at First Sight, singkat saja dengan LFS.
Wuahhh... dulu gue paling nggak pernah percaya ada orang yang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama... Tapi tadi pagi di angkot S. 12 justru gue menemukan faktanya.
Tadi pagi ada cowok duduk di depan gue, jadi mau gak mau gue liat dounk tampangnya , lagian dia naik hampir berbarengan gitu deh sama gue. Tampangnya lesu banget dan kayaknya kok masih pagi udah gak punya semangat. Dari body language-nya aja bisa keliatan, dia lagi bad mood banget... Tapi nggak lama ada cewek nih naik, terus duduk disebelahnya... Gue geli ngeliat, wajah spontan tuh cowok tiba-tiba berubah banget... Ekspresi mukanya langsung beda dan cerah banget... Matanya yang tadinya lesu jadi tiba-tiba bersinar gitu... Alhasil gue jadi merhatiin gerak-gerik tuh cowok, sambil geli sendiri... Gue jadi mikir deh, apa ini cowok terserang virus LFS.
Selanjutnya, nih cowok gelisah banget, salting, grogi, dsb. Sementara si cewek yang gak tau apa-apa tetep cool abis. Satu menit... dua menit... tiga menit... sampai sepuluh menit kemudian, tuh cowok angkat suara. Wooowww jadi selama itu dia gelisah gara-gara mikir gimana caranya untuk mulai pembicaraan??
“Mau kuliah, ya,” si cowok tiba-tiba angkat suara. Si cewek kaget dan dengan wajah yang gak suka ngejawab singkat. Cowok itu terus, terus dan terus bertanya meski si cewek ngejawab singkat-singkat dan dengan tampang yang gak terlalu suka dan merasa terganggu...
Dari jawaban singkat-singkat itu akhirnya mereka sama-sama tau kalo mereka satu almamater, ngambil jurusan yang sama, sampe akhirnya obrolan mereka nyambung banget mulai dari ngomongin bahasa program AS 400 lah, Informix 4 GL lah, yang nota bene mata kuliah gue jaman dulu.
Si cewek yang tadinya males dan ngejawab singkat-singkat malah keliatan lebih semangat dari pada si cowok... Obrolan jadi nyambung dan asyik, gue yang lagi tukang nguping untung bisa menikmati obrolan mereka, ya... itung-itung reuni jaman kuliah dulu... Si cowok juga nggak mau melewatkan kesempatan, dia mulai menanyakan hal yang lebih personal. Mulai nama sampai tukeran nomer telepon.
Wuiiihhhhh, gue seneng banget sama nih cowok, dia kayaknya tau banget bagaimana menggunakan kesempatan terkahir untuk tidak kehilangan orang yang mungkin ingin dia kenal lebih jauh... Sederhana banget yah... Gue emang gak tau, apa yang akan terjadi diantara keduanya, apakah akan berlanjut atau apa.

Cuma gue jadi teringat ungkapan Kahlil Gibran, di bukunya yang berjudul CINTA KEINDAHAN KESUNYIAN...
Disitu dia tulis begini:
Jangan kau kira CINTA datang dari keakraban yang lama dan tekun. CINTA adalah ANAK KECOCOKAN JIWA dan jika itu tidak pernah ada, cinta tidak akan pernah tercipta meski dalam hitungan tahun atau bahkan milenia.

Waduuuhhh, padahal selama ini gue adalah orang yang tidak percaya dengan opini orang-orang tentang apa yang namanya cinta pada pandangan pertama. Karena menurut gue, cinta itu membutuhkan waktu untuk bisa tumbuh, bukan timbul hanya karena sekilas pandang saja.
Tapi anehnya, belakangan ini, malah banyak banget kejadian disekitar gue yang mempertontonkan kasus LFS ini... Misalnya aja ya kayak kejadian tadi pagi itu, terus temen gue yang langsung jatuh cinta pada pacarnya sekarang, sejak pertama kali dia ketemu... Terus lagu Glenn feat Audy juga menggila... belakangan ini sering banget terdengar di telinga gue... ”Terpesona kupada pandangan pertama...” Dst... dan yang paling gila, belum lama ini kayaknya virus LFS ini mulai menyerang gue, waktu gue terpaku melihat karya seseorang di blog-nya, terus gue langsung deg-deg an gitu karena kagum dan sangat tersentuh dengan tulisan-tulisan yang dia ungkapkan dalam bahasa yang indah... Padahal, kenal aja nggak sama tuh orang, bener-bener gak tau, but my heart can’t stop beating... Apa gue yang udah gila kali ya... Apa ini bisa digolongkan kategori Love at First Sight... Kayaknya gak mungkin juga deh, kenal aja nggak...

Apa semua kejadian ini ingin membukakan pada gue bahwa opini gue terhadap ketidakpercayaan dengan apa yang namanya Love at First Sigt itu salah? Bahkan ketika menuliskan inipun gue masih nggak tau, apa Love at First Sight itu ada??? What do you think, Pals???

Tuesday, October 26, 2004

...HARUSKAH MEMAAFKAN...

Kita pasti sering banget denger orang-orang selalu bilang:
"Udahlah, maafkan aja kesalahannya, mungkin dia nggak sadar telah berbuat gitu..."
"Udah deh, kita bisa gila juga kalo ikut emosi..."
"Lupain deh, emang dia begitu orangnya..."
bla...bla...bla...
dan sejuta kalimat bijaksana lainnya (atau sok bijak???), yang disebutkan orang sekitar, kalo kita lagi berselisih dengan seseorang.
Lalu, apa kata hati kita????
Sering banget hati kecil kita membantah omongan orang-orang itu:
"Enak aja lo ngomong. Lo gak ngerasain sih..."
"Ngomong emang gampang, coba kalo lo yang kena..."
"Ah, gak usah sok bijak deh, kalo lo yang ngalamin juga sama aja kayak gue..."

Bisa dibilang tulisan ini gue bikin sehubungan dengan pasca kasus MR. GI kemarin, waktu penduduk Venus, warga kampung MARUMAUMA, panas banget liat kelakuannya.

Sikap apa sih yang HARUS kita ambil sekarang setelah kita, baik yang terlibat secara langsung ato nggak dalam masalah itu?
TIDAK ADA HAL LAIN, SELAIN MEMAAFKAN
"Waduh... di suruh maafin MR. GI???? Nanti dulu!!!!!"
Pasti itu yang langsung terucap.
"Kita harus kasih dia pelajaran, biar dia kapok..."
Sekarang pertanyaannya, pelajaran apa yang mau kita kasih ke dia??? Dia tahu kok semua tentang kebenaran, bahkan lebih jago dari kebanyakan orang, cuma mungkin belum sampe ke prakteknya, masih teori melulu...

Bagi gue pribadi, MEMAAFKAN seseorang adalah hal yang paling susah banget untuk dilakukan. Perlu kematangan ekstra dan jiwa besar untuk MEMAAFKAN seseorang. Sakit hati sama orang yang udah nusuk kita??? Itu perasaan yang sangat wajar, manusiawi... Kenapa?? Ya, karena kita manusia biasa dan punya kelemahan. Tapi apa kita hanya akan berhenti disitu, mencari pembenaran diri sebagai manusia yang tidak sempurna dan terbatas, sehingga kita akhirnya hanya menjadi orang-orang egois dan merasa benar...
"Tapi dia kan udah jahat, tapi apa dia nggak lebih egois dari kita????" Begitu kira-kira kita berteriak, gak terima...

Hal MEMAAFKAN seseorang bukanlah hal yang bisa diperhitungkan untung ruginya. MEMAAFKAN seseorang harus dari ketulusan hati dan bukan karena ingin dilihat orang lain bahwa kita adalah orang yang bijaksana, bukan juga supaya kita baik dimata orang lain.
Ini masalah HATI.
Waduuhhh, waktu nulis opini ini aja, HATI gue masih gak tau dimana, Sudahkah gue MEMAAFKAN dia??? Atau gue makin hari makin gak perduli keberadaan MR. GI atau malah jangan-jangan rasa benci gue ke MR. GI makin bertumpuk????

Kalau mau direnungi lagi, TUHAN itu tak terlukiskan kebaikannya, penjahat yang disalib disebelahNYA aja, DIA ampuni dan diselamatkan... Padahal kalo dipikir-pikir, apa sih yang gak bisa DIA buat terhadap penjahat itu, orang DIA punya kuasa kok??? Coba kalo dipikir lagi, seberapa besar sih kejahatan MR. GI dibanding dengan penjahat yang di salib itu??? Dan coba juga bandingin seberapa besar sih kuasa yang kita miliki sehingga kita tidak mau MEMAAFKAN dia???
Satu lagi nih, coba kita pikirin, bener nggak di dunia ini tidak ada kejahatan yang paling besar sekalipun yang tidak diampuni TUHAN, kalo orang itu bertobat?
Wuaaahhhhhh... lagi-lagi ini TEORI, Kenyataannya??? Susah ya??? Bisa nggak ya kita mengakui bahwa sebenarnya kita sama sekali TIDAK PUNYA HAK SEDIKITPUN UNTUK TIDAK MEMAAFKANNYA???
Wooowww... Apa iya gue mampu???...

Jujur aja, buat gue secara pribadi, rasanya susssaaaaahhhhh banget MEMAAFKAN seseorang yang udah melukai gue. Tapi gue harus bagaimana lagi, kalo satu-satunya jalan ya cuma itu... MEMAAFKAN... Nggak ada jalan lain...
Loh, kok jadi seperti dipaksa untuk MEMAAFKAN? Padahal tadi udah disinggung MEMAAFKAN itu harus dengan ketulusan hati

Makanya, hai warga kampung MARUMAUMA, untuk itu mungkin cuma ini yang bisa kita lakukan:
Berdoa... berdoa dan berdoa, minta kepada TUHAN supaya kita DIMAMPUKAN untuk MEMAAFKANNYA...
Tapi semuanya balik lagi ke diri kita masing-masing sih, seberapa besar kematangan jiwa dan kebesaran hati kita untuk melakukannya, karena balik lagi, MEMAAFKAN hanya bisa dilakukan dengan ketulusan hati...

Lagi-lagi, ini cuma opini gue sebagai seorang yang pernah terlibat secara langsung dengan MR. GI. Gals, any comments?

Pesona Khayangan, 26 Oktober 2004

Monday, October 25, 2004

...MR. GI : MARS or VENUS...

John Gray, Phd. selalu bilang dalam buku-buku berserinya: Men are from Mars, Women are from Venus. Kira-kira apa yang membuat Mars dan Venus berbeda ya?

Kata dia, kehidupan di Mars itu adalah kehidupan yang mementingkan harga diri, prestasi, kemampuan dan usaha yang keras. Berbeda dengan kehidupan di Venus yang lebih mementingkan komunikasi, perhatian dan kasih sayang.
Lalu, katanya lagi, perbedaan yang paling mencolok antara penduduk Mars & Venus itu terlihat ketika mereka menghadapi masalah.
Orang Mars cenderung menarik diri dan mengasingkan diri, mereka merasa mampu menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan dari orang lain, bagi mereka masalah bisa diatasi sendiri. Dengan kata lain, mungkin mereka termasuk orang-orang yang mandiri.
Sebaliknya, penduduk Venus selalu mencari orang lain untuk berbagi masalah mereka, berbagi cerita dan mengharapkan dukungan dari orang yang dipercayainya. Beda banget kan antara cowok dan cewek dalam mengatasi masalah?

Tanpa rasa ingin menolak pandangan dan pikiran Mr. Gray tentang hal itu, gue mau mengungkap sedikit keanehan seseorang yang gue kenal, dia yang seharusnya berasal dari Mars kok malah memiliki karakter penduduk Venus, bahkan melebihi karakter penduduk aslinya, yaitu penduduk Venus. Sebut saja dia Mr. GI (baca: ji-ai)

Sekilas pandang tentang Mr. GI:
Terus terang gue nggak pernah menemukan pria se-antik Mr. GI di dunia ini, orang ini lebih memilih hidup bersama penduduk asal planet Venus. Lebih senang bergaul dengan cewek dari pada cowok. Actually, he is a very picky man, that I’ve ever known. Pemilih dalam segala hal, brands, friends, food dan anything-lah.

Meski pemilih, dulu dia masih bisa beradaptasi dengan banyak orang. Gue mulai ngeliat keanehannya ketika dia mulai mengomentari semua orang, semua hal-hal yang gak penting dan gak perlu dikomentari oleh cowok, mulai dari cara cewek berpakaian, model rambut, cara jalan, bahkan hal-hal yang gak pernah dikomentari cewek pun mulai dia komentari. Terkadang dengan tambahan cibiran atau nada sewot.

Gak cuma berhenti pada komentar-komentar gak penting, dia makin gawat ketika dia mulai mengomentari hal-hal prinsip yang dimiliki orang lain, sampai akhirnya, dia tidak mampu lagi melihat hal positif dari diri orang lain… Not even, me as his best friend used to be and some peoples who consider him as their best friend…
Semua orang gak ada yang baik dimatanya, semua orang cacat dimatanya. Orang-orang terdekatnya, satu persatu tumbang.

Puncaknya, waktu hal ini terjadi sama gue. Waktu itu, emosi gue bener-bener meluap sampai akhirnya gue meledak dan sedikit mempermalukan dia didepan komunitas gue. Dia nggak terima dan melampiaskannya dengan melontarkan kalimat-kalimat hina ke gue yang gak pantes diucapin oleh seorang manusia, apalagi seorang cowok.
Masalahpun berkembang ketika dia mulai melibatkan orang lain dalam hal ini. Dia mulai mencari orang lain untuk pembenaran dirinya, tapi dia yang gak sadar diri itu, tetap nggak sadar bahwa orang-orang sekitarnya tidak lagi memberikan dukungan padanya.

Tapi belum lewat dua bulan berselisih sama gue, dia kembali berulah. Kali ini sama temen deket gue, yang nota bene adalah satu-satunya orang yang masih mau berteman sama dia. Satu-satunya orang yang masih membela dia, satu-satu nya orang yang masih mampu berkata waktu gue bermasalah dengan dia: “Sudahlah, Jong. Maafkan dia. Karena dia itu memang begitu orangnya.”
Masalah datang lagi. Dia bukannya menarik diri dan mengasingkan diri untuk penyelesaiannya, seperti layaknya seorang cowok, tapi malah mulai grasak-grusuk lagi mencari orang lain untuk membagi-bagi masalah yang dia hadapin dengan orang lain, oh bukan tepatnya, mencari dukungan orang lain untuk pembenaran dirinya.

Oh, My God…. Apa lagi ini??? Dia tidak pernah sadar bahwa dia telah banyak kehilangan teman-temannya. Dia tidak pernah bertindak sewajarnya sebagai seorang cowok waktu masalah datang padanya??? Sama sekali bukan gambaran seorang penduduk Mars yang sering diceritakan Mr. Gray dalam buku-bukunya.
Atau haruskan gue mengambil kesimpulan bahwa seorang Mr. GI sesungguhnya adalah Ms. GI, hanya penampilan phisiknya saja seperti penduduk Mars, tetapi hati, pikiran dan perasaannya nggak bisa digambarkan jenis mahluk apa dia itu? Bahkan untuk disamakan dengan penduduk Venus pun dia nggak layak.
Benarkah sesungguhnya dia adalah orang gila yang sudah kehilangan jiwanya, bahkan sudah tidak sebanding lagi dengan orang yang sakit jiwa???

Pondok Indah, 25 Oktober 2004

Sunday, October 24, 2004

...SURAT TAK SAMPAI...

Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan sama kamu, tapi rasanya akhir-akhir ini waktu dan kesempatan hampir tidak ada. Aku tau apa yang sedang kamu alami, aku tau beban yang ada padamu belakangan ini dan semua yang terjadi di dalam hidup kamu. Dan aku tau dengan pasti bahwa kamu merasa segala persoalan kamu itu bisa kamu atasi sendiri tanpa kamu harus bagi beban itu pada orang lain.
Seminggu ini ada banyak hal yang aku renungkan tentang kamu. Dalam seminggu ini juga aku sengaja tidak menghubungi kamu, kamu tau apa penyebabnya? Aku hanya pingin membuktikan dan ingin sekali tau dan ingin sekali kamu mencari aku dan membagikan beban kamu itu sama aku. Karena kita sama-sama tahu bahwa aku adalah orang terdekat kamu. Tapi ternyata, kamu belum mempercayai aku dan belum menganggap aku layak untuk berbagi beban kamu.
Seandainyapun kamu menceritakan masalah kamu, memang belum tentu aku bisa memberikan solusi yang baik, tapi paling tidak aku bisa meringankan beban kamu dengan menjadi pendengar yang baik. Aku jadi berpikir, bahwa aku nggak berarti apa-apa buat kamu, aku bagai angin lalu saja buat kamu.
Terbukti, ketika aku tidak menghubungi kamu, kamu pun tidak merasa kehilangan dan kamu tidak berusaha mencari aku.
Aku ingin sekali berbuat banyak untuk membantu kamu, tapi bagaimana aku bisa melakukannya kalau kamunya juga tidak punya keinginan untuk berbagi beban itu. Aku memahami benar bahwa kamu memiliki prinsip yang kuat untuk hal ini, dalam menghadapi persoalan. Aku tau kalau kamu merasa yakin bahwa kamu bisa mengatasi sendiri persoalan dan masalah kamu. Terkadang aku berpikir kamu sepertinya tidak membutuhkan orang lain dalam hidup kamu karena kamu merasa bisa mengatasi setiap masalah tanpa bantuan orang lain.
Sejak kita menjalani hari-hari bersama sudah banyak sekali yang kamu lakukan buatku, kamu selalu menyediakan waktu dalam kesibukanmu atau meski kamu hanya jadi tumpahan amarah dan kekecewaanku. Kamu sudah memberikan banyak sekali dukungan buat aku, mendengarkan semua keluh kesahku dan semua yang terjadi dalam hidupku, dari masalah kecil samapai yang besar sekalipun.
Aku sangat bersyukur kepada BAPA karena aku memiliki kamu, kamu berarti banyak buat aku. Akupun berharap aku juga bisa punya arti buat kamu. Kamu telah lakukan banyak tapi aku merasa belum pernah melakukan apa-apa buat kamu. Kamu juga tidak pernah meminta waktuku dan telingaku untuk mendengarkan masalah kamu. Bahkan aku pernah bepikir mungkin kamu orang yang tidak pernah punya masalah di dunia ini.
Rasanya kita sudah cukup punya waktu untuk membangun kepercayaan dan penghargaan dan aku berharap bahwa kamu bisa mempercayai aku, seperti aku sangat mempercayaimu.
Terima kasih untuk semua yang telah kulakukan, untuk doa, dukungan dan kesediaan kamu selama ini. Meski saat ini kamu belum mau berbagi masalah, kamu harus tetap ingat bahwa aku akan selalu ada disini untuk membantu, mendukung dan mendoakan kamu, seperti semua yang telah kamu lakukan kepadaku selama ini.

Pondok Labu, 4 September 1998
Buat dia dalam kegundahanku