Sunday, October 24, 2004

...SURAT TAK SAMPAI...

Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan sama kamu, tapi rasanya akhir-akhir ini waktu dan kesempatan hampir tidak ada. Aku tau apa yang sedang kamu alami, aku tau beban yang ada padamu belakangan ini dan semua yang terjadi di dalam hidup kamu. Dan aku tau dengan pasti bahwa kamu merasa segala persoalan kamu itu bisa kamu atasi sendiri tanpa kamu harus bagi beban itu pada orang lain.
Seminggu ini ada banyak hal yang aku renungkan tentang kamu. Dalam seminggu ini juga aku sengaja tidak menghubungi kamu, kamu tau apa penyebabnya? Aku hanya pingin membuktikan dan ingin sekali tau dan ingin sekali kamu mencari aku dan membagikan beban kamu itu sama aku. Karena kita sama-sama tahu bahwa aku adalah orang terdekat kamu. Tapi ternyata, kamu belum mempercayai aku dan belum menganggap aku layak untuk berbagi beban kamu.
Seandainyapun kamu menceritakan masalah kamu, memang belum tentu aku bisa memberikan solusi yang baik, tapi paling tidak aku bisa meringankan beban kamu dengan menjadi pendengar yang baik. Aku jadi berpikir, bahwa aku nggak berarti apa-apa buat kamu, aku bagai angin lalu saja buat kamu.
Terbukti, ketika aku tidak menghubungi kamu, kamu pun tidak merasa kehilangan dan kamu tidak berusaha mencari aku.
Aku ingin sekali berbuat banyak untuk membantu kamu, tapi bagaimana aku bisa melakukannya kalau kamunya juga tidak punya keinginan untuk berbagi beban itu. Aku memahami benar bahwa kamu memiliki prinsip yang kuat untuk hal ini, dalam menghadapi persoalan. Aku tau kalau kamu merasa yakin bahwa kamu bisa mengatasi sendiri persoalan dan masalah kamu. Terkadang aku berpikir kamu sepertinya tidak membutuhkan orang lain dalam hidup kamu karena kamu merasa bisa mengatasi setiap masalah tanpa bantuan orang lain.
Sejak kita menjalani hari-hari bersama sudah banyak sekali yang kamu lakukan buatku, kamu selalu menyediakan waktu dalam kesibukanmu atau meski kamu hanya jadi tumpahan amarah dan kekecewaanku. Kamu sudah memberikan banyak sekali dukungan buat aku, mendengarkan semua keluh kesahku dan semua yang terjadi dalam hidupku, dari masalah kecil samapai yang besar sekalipun.
Aku sangat bersyukur kepada BAPA karena aku memiliki kamu, kamu berarti banyak buat aku. Akupun berharap aku juga bisa punya arti buat kamu. Kamu telah lakukan banyak tapi aku merasa belum pernah melakukan apa-apa buat kamu. Kamu juga tidak pernah meminta waktuku dan telingaku untuk mendengarkan masalah kamu. Bahkan aku pernah bepikir mungkin kamu orang yang tidak pernah punya masalah di dunia ini.
Rasanya kita sudah cukup punya waktu untuk membangun kepercayaan dan penghargaan dan aku berharap bahwa kamu bisa mempercayai aku, seperti aku sangat mempercayaimu.
Terima kasih untuk semua yang telah kulakukan, untuk doa, dukungan dan kesediaan kamu selama ini. Meski saat ini kamu belum mau berbagi masalah, kamu harus tetap ingat bahwa aku akan selalu ada disini untuk membantu, mendukung dan mendoakan kamu, seperti semua yang telah kamu lakukan kepadaku selama ini.

Pondok Labu, 4 September 1998
Buat dia dalam kegundahanku

2 Comments:

Blogger Shinta said...

Waduh.., kok sedih banget ya suratnya..? :( shinta pernah lho, punya suasana hati kaya gini... dan tahu shinta ngapain?? shinta ngomong langsung ke dia apa yang ada di dalam hati shinta. dan, itu berhasil! :) coba deh...

2:52 AM  
Blogger Miracle One said...

Shinta darling,

Makasih ya comment dan advice-nya. Tapi ini surat gw bikin beberapa tahun yang lalu. Orang ini sekarang udah hilang tertelan ke-egoisan dalam kebahagiaannya bersama yang lain hehehe...

6:42 PM  

Post a Comment

<< Home