Monday, October 25, 2004

...MR. GI : MARS or VENUS...

John Gray, Phd. selalu bilang dalam buku-buku berserinya: Men are from Mars, Women are from Venus. Kira-kira apa yang membuat Mars dan Venus berbeda ya?

Kata dia, kehidupan di Mars itu adalah kehidupan yang mementingkan harga diri, prestasi, kemampuan dan usaha yang keras. Berbeda dengan kehidupan di Venus yang lebih mementingkan komunikasi, perhatian dan kasih sayang.
Lalu, katanya lagi, perbedaan yang paling mencolok antara penduduk Mars & Venus itu terlihat ketika mereka menghadapi masalah.
Orang Mars cenderung menarik diri dan mengasingkan diri, mereka merasa mampu menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan dari orang lain, bagi mereka masalah bisa diatasi sendiri. Dengan kata lain, mungkin mereka termasuk orang-orang yang mandiri.
Sebaliknya, penduduk Venus selalu mencari orang lain untuk berbagi masalah mereka, berbagi cerita dan mengharapkan dukungan dari orang yang dipercayainya. Beda banget kan antara cowok dan cewek dalam mengatasi masalah?

Tanpa rasa ingin menolak pandangan dan pikiran Mr. Gray tentang hal itu, gue mau mengungkap sedikit keanehan seseorang yang gue kenal, dia yang seharusnya berasal dari Mars kok malah memiliki karakter penduduk Venus, bahkan melebihi karakter penduduk aslinya, yaitu penduduk Venus. Sebut saja dia Mr. GI (baca: ji-ai)

Sekilas pandang tentang Mr. GI:
Terus terang gue nggak pernah menemukan pria se-antik Mr. GI di dunia ini, orang ini lebih memilih hidup bersama penduduk asal planet Venus. Lebih senang bergaul dengan cewek dari pada cowok. Actually, he is a very picky man, that I’ve ever known. Pemilih dalam segala hal, brands, friends, food dan anything-lah.

Meski pemilih, dulu dia masih bisa beradaptasi dengan banyak orang. Gue mulai ngeliat keanehannya ketika dia mulai mengomentari semua orang, semua hal-hal yang gak penting dan gak perlu dikomentari oleh cowok, mulai dari cara cewek berpakaian, model rambut, cara jalan, bahkan hal-hal yang gak pernah dikomentari cewek pun mulai dia komentari. Terkadang dengan tambahan cibiran atau nada sewot.

Gak cuma berhenti pada komentar-komentar gak penting, dia makin gawat ketika dia mulai mengomentari hal-hal prinsip yang dimiliki orang lain, sampai akhirnya, dia tidak mampu lagi melihat hal positif dari diri orang lain… Not even, me as his best friend used to be and some peoples who consider him as their best friend…
Semua orang gak ada yang baik dimatanya, semua orang cacat dimatanya. Orang-orang terdekatnya, satu persatu tumbang.

Puncaknya, waktu hal ini terjadi sama gue. Waktu itu, emosi gue bener-bener meluap sampai akhirnya gue meledak dan sedikit mempermalukan dia didepan komunitas gue. Dia nggak terima dan melampiaskannya dengan melontarkan kalimat-kalimat hina ke gue yang gak pantes diucapin oleh seorang manusia, apalagi seorang cowok.
Masalahpun berkembang ketika dia mulai melibatkan orang lain dalam hal ini. Dia mulai mencari orang lain untuk pembenaran dirinya, tapi dia yang gak sadar diri itu, tetap nggak sadar bahwa orang-orang sekitarnya tidak lagi memberikan dukungan padanya.

Tapi belum lewat dua bulan berselisih sama gue, dia kembali berulah. Kali ini sama temen deket gue, yang nota bene adalah satu-satunya orang yang masih mau berteman sama dia. Satu-satunya orang yang masih membela dia, satu-satu nya orang yang masih mampu berkata waktu gue bermasalah dengan dia: “Sudahlah, Jong. Maafkan dia. Karena dia itu memang begitu orangnya.”
Masalah datang lagi. Dia bukannya menarik diri dan mengasingkan diri untuk penyelesaiannya, seperti layaknya seorang cowok, tapi malah mulai grasak-grusuk lagi mencari orang lain untuk membagi-bagi masalah yang dia hadapin dengan orang lain, oh bukan tepatnya, mencari dukungan orang lain untuk pembenaran dirinya.

Oh, My God…. Apa lagi ini??? Dia tidak pernah sadar bahwa dia telah banyak kehilangan teman-temannya. Dia tidak pernah bertindak sewajarnya sebagai seorang cowok waktu masalah datang padanya??? Sama sekali bukan gambaran seorang penduduk Mars yang sering diceritakan Mr. Gray dalam buku-bukunya.
Atau haruskan gue mengambil kesimpulan bahwa seorang Mr. GI sesungguhnya adalah Ms. GI, hanya penampilan phisiknya saja seperti penduduk Mars, tetapi hati, pikiran dan perasaannya nggak bisa digambarkan jenis mahluk apa dia itu? Bahkan untuk disamakan dengan penduduk Venus pun dia nggak layak.
Benarkah sesungguhnya dia adalah orang gila yang sudah kehilangan jiwanya, bahkan sudah tidak sebanding lagi dengan orang yang sakit jiwa???

Pondok Indah, 25 Oktober 2004

5 Comments:

Blogger Shinta said...

Hahaha... pokoknya semua yang kak Renny tulis.., BETUL!!! :))
btw, settingnya udah dirubah ya?? :) eh, kalo ada waktu, liat blog shinta juga ya... :p

9:15 PM  
Anonymous Anonymous said...

hoaalaahh...yg ga deket aza bisa liat...kok rada2 yak...hehehe..mungkin itulah pergumulan hidupnya yang tak kelar2...kalo menurut ego sendiri...yaaa mana ada yg bertahan dekat2 doi...

10:54 PM  
Anonymous Anonymous said...

Mengutip Yoana Vebrie, S.Psi, gak ada yg hitam dan putih di dunia ini. Selalu ada gray area, apalagi manusia dengan segala keunikannya. Terlalu sempit kayaknya kalo cuma dibagi Mars & Venus. Lah, gimana dengan mereka yg waria? atau kalo dipikir kenapa Chef terbaik dunia justru kaum Mars padahal masak itu bisa dibilang lahannya Venus? atau kenapa ada cewe tomboy dan cowo melambai? Semua itu tergantung kadarnya dan yg pasti berpengaruh adalah pola asuh yg diterima seseorang sejak masa kanak2nya. Mars & Venus hanya karakter manusia pada umumnya, sejauh mana mempengaruhi tindakan atau pola pikirnya itu semua kembali lagi ke pribadinya, karena justru di situ letak keunikannya, yg bikin dunia lebih berwarna...

12:06 AM  
Blogger Miracle One said...

Buat gw, teteeeeeppppppppp..... Gak ada yang abu-abu di dunia dan pikiran gw, Hanya ada HITAM atau PUTIH, BAIK atau JAHAT, CINTA atau BENCI... tidak ada kata kompromi... kalau pun ada grey area, hanyalah pandangan atau pikiran yang muncul belakangan, yah mungkin karena perkembangan kondisi yang ada...
Sama seperti Mars and Venus, karena since the very beggining GOD only create MAN and WOMAN since they were born, NO WARIA. hehehehe
Pada prinsip yang paling mendasar atau yang original hanya Hitam dan Putih, Abu-abu hanyalah sekumpulan warna yang dibentuk kemudian..
But for me, Gak ada kompromi dah... hehehehe

8:51 AM  
Anonymous Anonymous said...

Kalo bicara warna dasar, hitam dan putih bukanlah warna dasar... Warna dasar itu hanya merah, hijau dan biru atau istilah grafisnya yg dikenal RGB (mungkin ya)... bahkan hitam dan putih adalah campuran warna. Filosofi hitam dan putih lebih cenderung untuk menggambarkan 2 kutub yg beda, tapi yg ngebentuk warna mereka tetap "elemen warna" yg beda2... orang jahat belum tentu gak bisa baik, begitu juga sebaliknya. Bukan masalah kompromi tapi kalo mau dibahas panjang gak ada abisnya... apalagi kita cuma manusia yg banyak keterbatasannya.

9:09 PM  

Post a Comment

<< Home